MODERASI BERAGAMA
Istilah moderasi, dan lawan katanya ekstremisme dan radikalisme, sejak beberapa tahun terakhir menjadi sangat populer.
Tapi apakah moderasi itu?
Moderate dalam arti "imbang" dan tidak melampaui batas-batas kealamiaan kemanusiaan. Dalam segala aspek ajarannya Islam itu berkarakter "imbang" (moderate).
Hadits Rasulullah bahkan mengingatkan: "berhati-hatilah dengan al-ghuluw (ekstremisme). Karena ektremisme membawamu kepada kehancuran (at-tahlukah).
Perhatikan misalnya aspek ketuhanan dalam Islam. Di satu sisi Tuhan digambarkan dengan beberapa penggambaran "khalqi" (ciptaan), misalnya dengan karakter melihat, mendengar, punya tangan, marah, senang (ridho), dan seterusnya.Namun di sisi lain juga semua yang memungkinkan Tuhan untuk diasosiasikan dengan makhluk tertutup rapat. Tuhan adalah "Ahad" (unik) yang "lam yakun lahu kufuwan ahad" (tiada yang mirip dengannya). Bahkan penggambaran Tuhan dengan makhluk apa saja salah dan dilarang.
Perhatikan ibadah-ibadah dalam Islam. Jangan lakukan hingga melampuai kapasitas anda. "Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya" (Al-Baqarah).
Pesan Rasulullah SAW: "agama itu mudah". Oleh karenanya jangan dilebih-lebihkan dan dipersulit. Bahkan ketika di hadapan Rasulullah ada dua pilihan, beliau selalu memilih yang termudah.
Dilemanya memang ketika manusia tidak jujur dalam mendefenisikan modarasi. Atau sebaliknya ketika kata "radikalisme" menjadi santapam kepentingan sesaat, termasuk politik. Lalu moderasi atau sebaliknya radikalisme ditujukan kepada "kepentingan" masing-masing.
Dari semua ini saya menyimpulkan bahwa moderasi itu adalah komitmen kepada agama apa adanya, tanpa dikurangi atau dilebihkan. Agama dilakukan dengan penuh komitmen, dengan mempertimbangkan hak-hak vertikal (ubudiyah) dan hak-hak horizontal (ihsan).
MasyaAllah
BalasHapus😍👍
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapus